Showing posts with label RELIGION. Show all posts
Showing posts with label RELIGION. Show all posts

Saturday, 24 October 2015

KIDUNG SANGHYANG: salah satu Tari Sakral dari Bali

 PANGUKUP

Purwakaning angripta rum, ningwana ukir,
Kahadang labuh, Kartika panedengin sari,
Angayon tanguli ketur, angringring, Jangga mure

Sukania arja winangun, Winarna sari,
Rumrumning puspa, Priyaka ngoling tangi,
Sampuning riris sumaura, sungguing, srengganing rejeng,

Om Hyang ayu ngiasin gelung, ngrangsuk raja busana,
Gelang kana pinggel agung, masimsim masekar taji,
Mengaji Hyang jenar sari, makekepet cina rata,
Kekasange alus, sarwa mirah manik,

Widyadarine tumurun, ngegana di ambarane,
Anonton sekare arum, ambune miyik sumirit,
Kawula pada menangkil, prasama manunas ica,
Mangda gelis turun, ring pura melinggih.

Sanghyang sampat, mariki turun malingse,
Malingse mangda becik, mangigel sereg-seregan,
Seregseg-seregseg  sira yayi, turun sira  manelimat .

Tuesday, 20 October 2015

BAKTI SOSIAL "Ngayah" SISWA KELAS VI DI PURA SAAT "Piodalan"

Siswa kelas VI siap dengan pakaian dan peralatan untuk ngayah pagi ini. tidak hanya siswa, namun guru juga akan bersama-sama ikut menghaturkan bakti "ngayah" dengan hati suci.


Setiap insan hendaknya melaksanakan dharma negara dan dharma agama. Dharma agama kita lakukan dengan melaksanakan kewajiban menjalankan proses pembelajaran dan pendidikan sesuai aturan di sekolah. Dharma agama dilakukan dengan menjalankan kewajiban sesuai dengan ajaran agama, seperti kegiatan sosial, pengabdian masyarakat dan kegiatan ngayah di Pura.

Kegiatan ngayah adalah kegiatan yang sangat mulia. Pengertian secara konsepnya adalah membantu yang biasanya kepentingan publik dengan sangat ikhlas tanpa paksaan dan imbalan serta dilandasi dengan kesucian hati. Jadi kegiatan ngayah memberikan pendidikan luhur kepada anak-anak kita.

Mereka anak-anak kelas VI dan para guru-guru. Tidak hanya mereka, tetapi ada warga masyarakat dari berbagai dusun yang ngayah di pura untuk mempersiapkan upacara.

Kegiatannya adalah membantu persiapan dan kelancaran pelaksanaan upacara, mulai dari bersih-bersih, membuat sarana upacara. Terlihat mereka setelah bersih-bersih semua anak laki-laki membuat "klakat".


Perempuannya majejahitan untuk sarana upacara bersama guru-guru yang perempuan. Sementara guru-guru yang laki-laki berada di tempat berbeda ngayah membuat katik.


Tuesday, 1 September 2015

SATUA BALI

Cerita Siap Selem

            Ada tuturan satua siap selem ngelah panak pitung ukud, olagan ane paling cenika. Ada kone kuuk maumah dadi anatah, masih ngelah panak enu cenik-cenik. Sai-sai I Kuuk ngae daya apang sida ia ngamah I Siap Selem, sabilang peteng ada nagih batisne, “Icang tendas Me, icang basangne Me, icang kibulne Me, icang kampidne Me, icang baongne Me.” Keto pada tetagihan panak-panakne I Kuuk, nagih ngamah I Siap Selem. Dadi mawanan ningeh I Siap Selem teken bakal kaamah, dadiannya ia ngalih upaya mangdene nyidayang matilar uli ditu.
         
   Gelising crita panakne ane nemnem suba pada samah bulu kampidne, sakewala ane paling cenika dogen liglig reh tan pabulu. Suba kone inganan tengah lemeng, I Siap Selem matuturan teken panakne, “Nak cai-cai jani ajak makejang makeber abete sakaukud, matinggal uli dini. Yen enu pade nongos dini sinah amaha teken I Kuuk.” Ditu lantas ane paling gedene nyumuin makeber, berber, burbur, suaak. Lantas matakon I Kuuk, “Ih Siap Badeng apa ento ulung?” “Inggih, daun tingkih ipan”. Buin makeber ane lenan, berber, burbur, suaak. “Siap Badeng apa ento ulung?” “Daun tiing ipan.” Makejang panakne suba makeber sakewala enu I Olagan dogen. Dening ia tan pakampid dadi keweh pesan memenne, lantas kapituturin, “Cai dini kutang Meme, tan urungan cai lakar amaha teken I Kuuk. Nah ene pitutur Meme teken cai, yang di kadine cai bakal tagih amaha teken I Kuuk, kene abete masaut, “Inggih Jero Wayan ne mangkin kantun ben tiange belig, yang pungkuran sampun tiang gede makadi tumbuh kampid, irika ja becik ulam tiange daar jerone, keto abete masaut.” Suba kone keto I Siap Selem makeber ninggal I Olagan. Nu kone I Olagan dogen pati sulsul kiak-kiak. Lantas kadingeh teken I Kuuk I Olagan kiak-kiak padidiana.” Kenken dadi I Olagan kauk-kauk padidiana, kija ya memenne? Beh ento jenenga ane ibi sanja orahanga don tiing, tingkih, timbul, ia jenenga

Monday, 1 June 2015

PERJALANAN KE PURA MENJANGAN BALI


Bersembahyang jauh-jauh bukan berarti lupa akan Tuhan ada pada setiap diri Manusia, bukan tidak bersembahyang pada leluhur. Terlalu egois rasanya menyatakan kita tidak perlu bersembahyang pada pura-pura jauh-jauh atau aneh-aneh lainnya. Tetapi kita tidak lupa dengan hakikat yang sebenarnya bahwa Tuhan bisa dicari pada setiap diri, dan leluhur adalah kawitan. Jika demikian bukan berarti penjelasan ini hanya berlaku bagi mereka yang mampu, namun karena kita diberikan kesempatan untuk menyadari Tuhan dengan jalan itu, mengapa tidak dilakukan. Mereka yang tidak mampu juga diberikan jalan dengan cara demikian. Yang terpenting adalah seberapa jauh kita bisa menyadari dan melayakkan diri untuk Beliau tanpa mengganggu yang teman lain

            Kamis, 14 Mei 2015 tepat pukul 08.00 rombongan berangkat dari

KEKAWIN BHARATA YUDDHA: Wirama Wirat Jagatdhita



3.
Ngka rakwa tumurun bhatara giri natha
Irika reka tumedun Ida Sang Hyang Siwa
lawana mara sanggahalen rsi,
kairing olih watek dewa miwah para rsi,
Yatna srin pamaso mamursita
Siksa Ida Sang Prabu
mangarga ri sira sangacintya nirmala,
mamuji ring ida sang maraga suci tanpateleteh,
Yeken tusta manah bhatara mawuwus
Duk punika ledang kayun Ida bhatara ngandika
aji Jayabhaya aywa sangsaya,
cening agung Jayabaya sampunang sumandeya,

Monday, 1 December 2014

BAHAGIA ITU ADA

Apakah kebahagiaan itu??? Banyak yang mengartikan bahwa kebahagian yang abadi adalah mencapai moksa (setelah meninggal). Namun, apakah benar itu adanya? Benarkah surga atau neraka itu ada? Pernakah ada orang yang meninggal dan kembali ke dunia ini untuk mencerikan keadaan mereka setelah meninggal? Apakah ada seorang yang telah meninggal kemudian masuk surga atau neraka dan kembali ke dunia kemudian bercerita tentang kebahagiaan dan penderitaan di alam sana seperti di buku-buku? Meskipun ada orang seperti itu, apakah orang yang mendengarkan ceritanya akan percaya dengan apa yang dialami orang tersebut setelah meninggal?

           

Thursday, 11 July 2013

CERDAS BERAGAMA HINDU DI ZAMAN GLOBAL



       Agama Hindu tidak membatasi seseorang atau pemeluk untuk bertanya, malahan bertanya adalah hak, bukan pembatasan. Hal ini tidak berarti untuk menurunkan keimanannya, melainkan untuk meningkatkan keimanan dan kepercayaan terhadap apa yang dipercayainya. Apakah agamanya sesuai dengan nalar atau tidak. Pertanyaan-pertanyaan yang sering menyasar umat Hindu yaitu: “mengapa Hindu mengembah patung (penyembah berhala)?” “Untuk apa dan siapa banten?” “apakah Tuhan akan memakan buah-buahan yang enak dipersembahkan?” “banten saiban untuk Tuhan? Bukan semut atau binatang lain yang mengerumuninya?” “katanya cukup dengan air, daun, bunga dan api?” “artinya yang kaya akan bisa lebih bagus beragama ya?” “mengapa Hindu sering mengadakan upacara?” “untuk apa banyak sekali membangun pura?” “bukankah selain agama saya adalah kafir?” bukankah selain agama saya tidak akan terselamatkan?”. Pertanyaan ini hanya sebagian kecil dari puluhan pertanyaan yang sering menerobos ke dalam pemikiran umat Hindu. Muaranya adalah tidak membuat diri menjadi ragu beragama Hindu, melainkan untuk meningkatkan keyakinan beragama.
           

Saturday, 6 July 2013

BERDAMAI DALAM AGAMA SENDIRI: Menempa Universalitas Agama Hindu


            Berbicara tentang ‘Perdamaian Agama’ dibenak ini sangat wajar mengingat dan mengenang sejarah Word Parlement of Religions yang diadakan di Chicago AS pada September 1893. Parlemen Agama Dunia ini mempertemukan tokoh-tokoh besar dari setiap agama yang ada di dunia. Pertemuan ini untuk mengakhiri kekerasan yang mengatasnamakan agama, sektarianisme, kekerasan pikiran, dan fanatisme yang telah memenuhi bumi dengan banjir darah, kesengsaraan, dan mengahancurkan peradaban manusia. Namun, yang lebih menginspirasi adalah pesan ‘perdamaian’ antar agama oleh Swami Vivekananda yang disampaiakn melalui pidato. Beliau sebagai salah satu tokoh pahlawan Hindu modern menyatakan bahwa kita memerlukan bantuan bukan perlawan, asimilasi bukan penghancuran, keselarasan dan perdamaian bukan pertikaian. Jadi jangan berharap dan jangan bermimpi persatuan akan terwujud dengan menangnya salah satu agama dan kehancuran agama yang lain. Biarkan mereka memeluk agamanya sendiri seperti pohon yang tumbuh mengikuti pergantian musim.