Monday, 1 December 2014

BAHAGIA ITU ADA

Apakah kebahagiaan itu??? Banyak yang mengartikan bahwa kebahagian yang abadi adalah mencapai moksa (setelah meninggal). Namun, apakah benar itu adanya? Benarkah surga atau neraka itu ada? Pernakah ada orang yang meninggal dan kembali ke dunia ini untuk mencerikan keadaan mereka setelah meninggal? Apakah ada seorang yang telah meninggal kemudian masuk surga atau neraka dan kembali ke dunia kemudian bercerita tentang kebahagiaan dan penderitaan di alam sana seperti di buku-buku? Meskipun ada orang seperti itu, apakah orang yang mendengarkan ceritanya akan percaya dengan apa yang dialami orang tersebut setelah meninggal?

           

Thursday, 11 July 2013

CERDAS BERAGAMA HINDU DI ZAMAN GLOBAL



       Agama Hindu tidak membatasi seseorang atau pemeluk untuk bertanya, malahan bertanya adalah hak, bukan pembatasan. Hal ini tidak berarti untuk menurunkan keimanannya, melainkan untuk meningkatkan keimanan dan kepercayaan terhadap apa yang dipercayainya. Apakah agamanya sesuai dengan nalar atau tidak. Pertanyaan-pertanyaan yang sering menyasar umat Hindu yaitu: “mengapa Hindu mengembah patung (penyembah berhala)?” “Untuk apa dan siapa banten?” “apakah Tuhan akan memakan buah-buahan yang enak dipersembahkan?” “banten saiban untuk Tuhan? Bukan semut atau binatang lain yang mengerumuninya?” “katanya cukup dengan air, daun, bunga dan api?” “artinya yang kaya akan bisa lebih bagus beragama ya?” “mengapa Hindu sering mengadakan upacara?” “untuk apa banyak sekali membangun pura?” “bukankah selain agama saya adalah kafir?” bukankah selain agama saya tidak akan terselamatkan?”. Pertanyaan ini hanya sebagian kecil dari puluhan pertanyaan yang sering menerobos ke dalam pemikiran umat Hindu. Muaranya adalah tidak membuat diri menjadi ragu beragama Hindu, melainkan untuk meningkatkan keyakinan beragama.
           

Saturday, 6 July 2013

BERDAMAI DALAM AGAMA SENDIRI: Menempa Universalitas Agama Hindu


            Berbicara tentang ‘Perdamaian Agama’ dibenak ini sangat wajar mengingat dan mengenang sejarah Word Parlement of Religions yang diadakan di Chicago AS pada September 1893. Parlemen Agama Dunia ini mempertemukan tokoh-tokoh besar dari setiap agama yang ada di dunia. Pertemuan ini untuk mengakhiri kekerasan yang mengatasnamakan agama, sektarianisme, kekerasan pikiran, dan fanatisme yang telah memenuhi bumi dengan banjir darah, kesengsaraan, dan mengahancurkan peradaban manusia. Namun, yang lebih menginspirasi adalah pesan ‘perdamaian’ antar agama oleh Swami Vivekananda yang disampaiakn melalui pidato. Beliau sebagai salah satu tokoh pahlawan Hindu modern menyatakan bahwa kita memerlukan bantuan bukan perlawan, asimilasi bukan penghancuran, keselarasan dan perdamaian bukan pertikaian. Jadi jangan berharap dan jangan bermimpi persatuan akan terwujud dengan menangnya salah satu agama dan kehancuran agama yang lain. Biarkan mereka memeluk agamanya sendiri seperti pohon yang tumbuh mengikuti pergantian musim.
           

Thursday, 5 July 2012

PROFESI PENDIDIKAN: Menanamkan Jiwa Profesionalisme Guru

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
            Menghadapi pesatnya persaingan pendidikan di era global ini, semua pihak perlu menyamakan pemikiran dan sikap untuk mengedepankan peningkatan mutu pendidikan. Pihak-pihak yang ikut meningkatkan mutu pendidikan adalah pemerintah, masyarakat, stakeholder, kalangan pendidik serta semua subsistem bidang pendidikan yang harus berpartisipasi mengejar ketertinggalan maupun meningkatkan prestasi yang telah diraih. Dari pihak-pihak tersebut, guru merupakan fokus dalam masalah ini. Guru merupakan elemen kunci dalam sistem pendidikan, khususnya di sekolah. Semua komponen lain, mulai dari kurikulum, sarana-prasarana, biaya, dan sebagainya tidak akan banyak berarti apabila esensi pembelajaran yaitu interaksi guru dengan peserta didik tidak berkualitas. Semua komponen lain, terutama kurikulum akan “hidup” apabila dilaksanakan oleh guru. Begitu pentingnya peran guru dalam mentransformasikan input-input pendidikan, sampai-sampai banyak pakar menyatakan bahwa di sekolah tidak akan ada perubahan atau peningkatan kualitas tanpa adanya perubahan dan peningkatan kualitas guru. Pada sisi lain, guru juga menjadi sosok yang paling diharapkan dapat mereformasi tataran pendidikan. Guru menjadi mata rantai terpenting yang menghubungkan antara pengajaran dengan harapan akan masa depan pendidikan di sekolah yang lebih baik.
            Pandangan di atas, rasanya tidak mudah untuk dipenuhi guru dewasa ini, sebab guru menjadi fokus utama dari kritik-kritik permasalahan pendidikan di Indonesia. Permasalahan guru di Indonesia baik secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan masalah mutu profesionalisme guru yang masih belum memadai dan jelas hal ini ikut menentukan mutu pendidikan nasional. Mutu pendidikan nasional kita yang rendah, menurut beberapa pakar pendidikan, salah satu faktor penyebabnya adalah rendahnya mutu guru (guru tidak profesional) itu sendiri di samping faktor-faktor yang lain (Murni, 2010). Maka, sebenarnya permasalahan profesional guru di Indonesia harus diselesaikan secara komprehensif, yaitu menyangkut semua aspek yang terkait berupa kesejahteraan, kualifikasi, pembinaan, perlindungan profesi, dan administrasinya. Tetapi, setiap kali membedah mutu pembelajaran, profesi menjadi guru selalu dijadikan “kambing hitam”. Terlebih dengan mutu pendidikan Indonesia yang terus terpuruk dibanding negara tetangga (Onno, 2004). Sumber permasalahan pendidikan di Indonesia, sebenarnya banyak menyangkut polemik profesional guru (Ave, 2008), sehingga mutu pendidikan rendah.